Khaliluna Asla

The Journey, Khaliluna Asla #1


Akhirnya aku buat juga kolom khusus untuk Asla. Aku membuat kolom ini saat dia sudah berusia 14 bulan lebih. Telat banget untuk merekam tumbuh kembangnya Asla. Hehe


Bismillah,


Meskipun terbilang telat, tapi masih jauh lebih baik lah, daripada enggak journaling tumbuh kembangnya Asla sama sekali. Aku terlalu sibuk untuk mengurusi diriku yang kacau kemarin, sekarang sih in syaa Allah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Memang kelewat banyak banget momen seru selama setahunan ini. Tapi enggak apa-apa lah, aku mulai dari sekarang aja.


She’s No Longer Baby

Asla, belakangan aku manggilnya Atta. Karena dia manggil dirinya sendiri begitu, hihi jadi aku ikut-ikutan aja. Lucu sih dia bisa sebut namanya sendiri. Di usianya yang sudah 14 bulan ini aku merasa dia bukan lagi bayi yang lempeng-lempeng aja hidupnya. Dia sekarang punya kemauan sendiri.


Pendiriannya terbilang kuat sih, kaku, tapi masih bisa diajak negosiasi. Anakku enggak bisa dikerasin, dibentak atau dimarahin. Jadi kalau dia udah mulai berbuat suatu yang ajaib, solusinya adalah membuat diriku lebih tenang meski dalam keadaan marah atau jengkel. Kadang kalau sudah muncak banget aku tinggalin dia untuk breath sebentar. Yah, minimal 5 menit lah.


Setelah 5 menit aku mulai bisa ajak diskusi hingga akhirnya dia turuti perintahku. Harus sealot itu perjuanganku untuk membuatnya nurutin apa yang aku perintahkan. Untuk hal-hal kecil seperti “tolong ambilkan…” aku rasa sih dia udah paham. Tapi yang masih jadi PR adalah ngasih pengertian ke dia untuk tidak menyakiti dirinya sendiri maupun orang lain.


Mulai Tantrum

Yes, Asla sudah memasuki fase tantrum sejak kurang lebih dua bulan lalu ketika usianya 12 bulan lebih. Akhirnya aku ngalamin juga fase ini #fiuh. Fase yang bikin aku dan suami saling sinis. Karena kami belum satu visi misi (saat itu) dalam menghadapi anak tantrum. Allhamdulillah, aku sudah sedikit banyak baca tentang topik tanrum, tapi suami belum.


Nah jadi dua kali lipat kan pekerjaannya. Ngasih pemahaman ke suami tentang bagaimana cara menghadapi anak tantrum dan ngasih pengertian ke Asla untuk mengenali dan mengatasi emosinya. Enggak mudah bu ibuuu #nangis. Karena anak usia segitu, belum bisa ngomong dengan jelas dan kadang belum paham apa mau dan maksud kita.


Asla, anak perempuanku ini belum mampu mengungkapkan emosinya secara menyeluruh. Jadi dia mengungkapkan rasa marah, sebelnya dengan nangis sambil pukul-pukul dan lempar barang. Nangis sih udah kebal ya akunya, lempar barang pun dia jarang. Tapi pukul-pukul iniloh ya ampun. Kalo enggak mukul dirinya sendiri ya mukulin ayah Ibunya.


Sejauh ini caraku menghadapi sikapnya Asla ya dengan tetap ada di depannya dia waktu dia tantrum, kasih pelukan, usap-usap punggungnya dan ngebiarin dia nangis sampe lega deh pokoknya. Bodo amat apa kata tetangga. Haha. Sometimes, kalau aku udah beneran engap banget ngadepin dia aku tinggal dia sebentar untuk minum atau breath, seperti yang aku bilang di atas.


Sudah Bisa Lari

Pas usia 12 bulan pas, Asla masih belum bisa jalan. Aku panik lalu aku kasih dia stimulus dengan titah, sounding terus menerus dan akhirnya dia bisa sedikit-sedikit berdiri dan belajar jalan. Awalnya selangkah dua langkah terus jatuh, terus nangis. Tapi waktu usia dia 13 bulanan, dia mulai berani jalan beberapa langkah. Ah, senangnya Ibu.


Belakangan, karena sudah merasa lancar mereun, dia suka lari-lari dong –. Awalnya lari-larian di kasur keliling kasur terus jatuh, lama-lama sengaja dijatuh-jatuhin gitu. Tapi aku akuin cara jalannya dia rada ngangkang gitu sih, I don’t know why, tapi yasudahlah aku enggak terlalu mempermasalahkan sih sebenernya.

Yang mempermasalahkan mungkin orang sekitar, dengan turut komen “Apa karena enggak dibedong ya dulunya?”, “Kebiasaan digendong ngangkang sih!”, dan seterusnya yang masa bodo, bodo amat lah buat aku pikrin terus menerus. Selama dia bisa jalan dengan baik, aku tidak akan mempermasalahkannya.


Suka Milih-milih Deh Kamu

Ini kocak sih asli, haha. Dia sekarang bisa milih apa yang dia mau. Aku rada tercengang aja, bayangin dia bisa milih dong mau nen di payudara sebelah mana? Haha, why? Emang beda gitu rasanya? Ini kejadian hampir setiap kali dia mau tidur. Dia merasa enggak puas dengan satu payudara lalu lanjut minta nen di payudara satunya. Akrobat deh gue.


“nyot-nyot..” (lepas), “nen” (nunjuk payudara satunya) – repeat.


Kenapa bisa gitu ya? Apa karena produksi ASI ku menurun? Apa karena kebutuhan lambungnya yang semakin besar? Sehingga tidak mencukupi (menurutnya). Apa karena dia haus dan hanya ingin minum? FYI, cairan ASI itu terbagi menjadi dua foremilk dan hindmilk. Foremilk teksturnya encer bening sedangkan hindmilk teksturnya padat kental.


Nah, foremilk yang encer ini biasa dibuat minum, sedangkan hindmilk itu makanannya. Aku liat #diskusimenyusui di instagramnya mba @housniati ketua AIMI. Wajar sih kalau bayi atau toddler menyusui itu milih mau menyusui dari payudara yang mana, karena bisa jadi si bayi sudah kenal yang mana foremilk, yang mana hindmilk. Intinya si bayi tahu kebutuhannya sendiri. Maa syaa Allah.


bersambung

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *