Marriage Life

Siap Menikah Berarti Siap Menambah Masalah Baru dalam Hidup

Bismillah,

Apa kamu seorang mahasiswi semester akhir yang sedang menghadapi lelahnya mengerjakan skripsi?
Apa kamu seorang wanita paruh baya yang sedang diberondong pertanyaan “kapan nikah” oleh sosial?
Lalu apa kamu sekarang sedang kebelet nikah karena kesepian dan merasa akan lebih baik jika kamu menikah?

Hahaha, terdengar seperti narasi iklan MLM di TV atau YouTube ya

Tapi itulah kenyataan yang terjadi di sosial. Orang menikah karena kesepian, lelah dengan hidup atau peer pressure. Orang juga menikah karena alasan sudah waktunya karena kalau kelewat waktu berarti sudah basi, sudah berubah statusnya jadi bujang lapuk atau perawan tua. Astagfirullah, jujur sedih.

Menikah itu bukan perlombaan. Menikahlah dengan tepat bukan dengan cepat

Anonim

Pernikahan juga jujur aja belum tentu akan berakhir bahagia. Banyak loh pernikahan yang tidak baik-baik saja, banyak juga pernikahan yang berujung pada perceraian. Itu menandakan apa? Bahwa menikah bukan akhir dari segalanya. Menikah berarti kita memasuki babak baru kehidupan. Menikah berarti kita akan menghadapi permasalahan hidup baru.

Berarti orang menikah itu cari masalah dong?

Bukan cari masalah, gini maksud aku setiap fase kehidupan tentu akan memiliki masalahnya masing-masing. Mulai dari kamu bayi, anak-anak, remaja, dewasa, kuliah lalu kerja itu semua ada masalahnya tersendiri termasuk menikah. Jadi, kalau kamu menikah kamu harus siap dengan permasalahan baru tersebut dalam kehidupan.

Terdengar menyeramkan ya. Exactly! Karena menikah itu berarti kita tumbuh dan berkembang bersama satu orang in rest of life. Menghabiskan sisa hidup kita di dunia dengan seseorang yang tujuannya adalah ibadah. Nggak mungkin kan dalam proses bertumbuh dan berkembang bersama pasangan hidup tidak terjadi masalah?

Mustahil juga ketika kita menghabiskan waktu untuk beribadah (menikah), setan libur untuk menggoda manusia. Justru mereka lebih giat menjerumuskan kita ke hal-hal yang membuat pernikahan itu sendiri kandas. Dalam suatu hadits disebutkan bahwa prestasi terbesar setan dan jin adalah menceraikan anak adam.

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau”
(HR Muslim IV/2167 no 2813)

MuslimAfiyah

Permasalahan apa yang akan ditemui?

Banyak sekali permasalahan yang akan kita temukan di dalam pernikahan. Dulu sebelum tau ilmu pernikahan, aku pun sama naifnya, menganggap pernikahan itu ujung dari segala ujung. Akhir dari segala penderitaan karena kekangan orang tua. Aku pikir menikah juga akan lebih bebas karena bisa terlepas dari otoritas orangtua. Bebas keluar malam main sampai puas. Ah indah deh pokoknya.

Ternyata? ZONK! Hahaha

Aku menertawakan diriku sendiri, bukan pernikahanku. Pernikahanku baik, tapi akunya yang tidak baik-baik saja. Hahaha (ketawa lagi). Bahwa ternyata menikah itu berarti kita harus bertanggung jawab mengemban peran yang lebih besar. Berdiri di kaki sendiri tanpa menengadahkan tangan ke orangtua lagi. Mampu menjadi manajer dalam segala bidang. Harus menahan ego dalam menyatukan dua kultur dan budaya yang diusung oleh keluarga masing-masing.

Harus rajin berkompromi dan lebih mawas dalam melihat masalah, apakah masalah A ini bersinggungan dengan prinsipku? Kalau tidak apakah aku patut marah dan mempermasalahkannya berkepanjangan? Bagaimana jika aku tidak sesuai harapan suamiku, pun bagaimana jika suami tidak sesuai harapanku. Gaya hidup masing-masing, pola pengasuhan di masa lalu suami maupun istri.

Ada lagi nanti kalau belum kunjung memiliki anak, bagaimana pasangan menghadapi peer pressure yang berkelanjutan, ini juga masalah lo. Lantas jika sudah memiliki anak tentu akan lain persoalannya yaitu bagaimana seharusnya kita mendidik anak. Ini mending kalau ada suami yang mau diajak ngobrol masalah anak. Ada juga suami yang taunya beres, masalah rumah dan anak menjadi tanggung jawab istri. Hell no!

Masih banyak, masih banyak permasalahan lainnya yang ngantri untuk dihadapi. Setiap detik nafas pernikahan itu masalah, setiap kita bangun tidur setelah menikah adalah masalah (mau makan apa, mau ngapain, nentuin tujuan hidup selanjutnya, dll). Kalau kamu siap menghadapinya go on! Kalau belum silahkan mempersiapkan diri.

Solusi Permasalahan dalam Pernikahan

Nggak mungkin juga Allah menciptakan masalah tanpa ada solusinya. Apa solusinya? Sholat dan Sabar

Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” 
(QS. Al Baqarah: 45)

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar
(QS. Al Baqarah: 153)

muslim.or.id

Terdengar klasik ya, tapi itulah solusi sebenar-benarnya dari segala masalah yang ada di muka bumi, terutama pernikahan. Selain itu meniatkan sebuah pernikahan hanya karena Allah dan mempelajari seni berkompromi juga bisa di azamkan mulai dari sekarang, baik oleh kamu yang belum menikah atau sudah menikah. Tidak ada kata terlambat.

Credit Photo by Elena Joland on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *