Perang Normal vs Cesar

” You’ll Know It When You Feel It. ”

-Leslie Bruce-
Photo by Luma Pimentel on Unsplash


Kurang lebih begitu yang saya rasakan. Saya mungkin nggak akan pernah tau perihnya cibiran orang sekitar kepada ibu-ibu yang melahirkan cesar kalau saya tidak melalui proses persalinan cesar.


Iya, ternyata seperih itu rasanya. Saya nggak lebay tapi memang itu yang saya rasakan beberapa hari pasca melahirkan dan sampai sekarang. Saya pikir di jenguk oleh kerabat dan sanak saudara bisa membuat saya bahagia karena merasa di perhatikan. Nyatanya, basa-basi perhatian mereka berujung pada penghakiman dan minim pemakluman.


Perempuan mana sih yang nggak mau melahirkan normal pervaginam? semua kalau ditanya jawabannya juga pasti mau. Selain karena melahirkan normal pervaginam adalah proses melahirkan yang di takdirkan Allah, karena tubuh kita di desain sempurna untuk melahirkan. Nyatanya peer pressure “Jika belum melahirkan normal belum jadi perempuan seutuhnya” juga bisa jadi trigger seorang melahirkan normal pervaginam.


Lantas, kalau bukan perempuan apaan, Maemunah? Banci? Kzl bet dah..


Begitulah, seuprit peer pressure di negara berflower :’)


Definisi perempuan seutuhnya itu yang kaya gimana sih? coba barangkali kalau ada yang tau bisa kasih tau di komen. Memang sehina itukah melahirkan secara cesar? Padahal sama-sama berjuang dan sakit loh. Mungkin yang pada nyinyir belum punya anak atau belum ngerasain melahirkan cesar lengkap dengan cibirannya kali ya #senyum.


Semua perempuan berjuang untuk melahirkan normal sampai ada suatu indikasi yang mengharuskannyya melahirkan dengan cesar. Begitupun dengan saya, yang setengah mati berjuang untuk melahirkan normal.


Segala upaya saya lakukan untuk melahirkan normal. Mulai dari follow akun Instagram Bidan Kita, Lanny Kuswandi, Jamilatus Sa’diyah, dll. Tidak lupa membaca artikel webnya Bidan Kita di sini.


Melakukan Prenatal Yoga di rumah, jalan kaki walau rasanya kaki ini rontok, massage ibu hamil, induksi alami, mendatangi bidan kenalan yang satu persatu saya tanyai mereka bisa membantu saya melahirkan di sana atau tidak, dan semua bidan menolak membantu persalinan karena saya memiliki riwayat keguguran berulang sampai 4x, survey dokter kandungan pro normal, survey rumah sakit pro IMD, dll. Sudah seperti orang kesetanan. Bingung sendiri nggak ada ujungnya. Mental dan batin saya tertekan.


Nggak lupa setiap ibadah komat-kamit sama Allah biar di kasih lahiran normal.


Di akhir menuju persalinan saya merasa lelah. Karena jadinya malah stres sendiri terlalu ambisius untuk melahirkan normal.


Kemudian saya tidur peluk guling, mikir yang lama, dalam-dalam. “Sebenarnya ada apa dengan saya? mengapa melahirkan normal menjadi rumit sampai harus seambisius itu. Perasaan ibuku dulu bisa-bisa aja melahirkan normal tanpa perlu ba bi bu. Kalau memang biaya masalahnya. Bukannya anak lahir membawa rejekinya sendiri?” Saya pasrah (menghela nafas).


Setelah perenungan saya dalam-dalam itu, kemudian saya menarik diri dari segala kegiatan tersebut supaya saya tidak semakin stres. Tau sendiri kan bumil bawaannya stres mulu, melow abis, sensitif bingits. Peralihan mood yang parah. Belum pernah saya sebegitu melownya.


Saya lepas satu persatu dan lebih selektif memilih kegiatan yang sekiranya nyaman untuk kesehatan mental saya. Mulai dari yang sebelumnya ikut yoga, kemudian stop. Stop juga liat-liat postingan dari Bidan Kita, dll. Saya mengalihkannya dengan membaca buku dan maraton drama Korea. And it works!


Saya sedikit lebih santai dalam menjalani hari-hari menjelang persalinan. Setelah di rasa saya cukup santai dan stabil secara emosi lalu saya mulai mengupayakannya lagi. Nggak sengoyo kemarin.


See, sayapun berjuang untuk melahirkan normal. Tidak leha-leha seperti orang-orang bilang ketika menjenguk saya. Kalaupun mereka tau kondisi mental saya saat hamil kemarin yang bisa di bilang tidak siap, karena saya merasa kesepian melakukan semua serba sendiri walau tinggal bersama orang tua, harus berjauhan dengan suami. Saya tidak punya support system. Belum selesai dengan pergolakan emosi yang nggak stabil kemudian harus mendengar ocehan mitos-mitos seputar kehamilan. So tired.


Jadi please, simpan rapat-rapat semua kekepoanmu wahai penjenguk sampai paling tidak si ibu pulih dan stabil emosinya.


Yakinlah bahwa semua wanita berjuang dengan jalannya masing-masing. Melahirkan normal itu sakitnya 1000x rasa sakitnya ketika keguguran tapi setelah itu si ibu bisa kembali beraktifitas normal. Melahirkan cesar juga sakit, sakitnya setelahnya. Pulihnya nggak terima bulan bahkan tahunan. Belum lagi mendengar cibiran pedas mantab level 10 macam “Ah, anak jaman sekarang males nggak mau soro”, “Jaman sekarang kok gampangmen cesar, aku dulu.. bla bla bla” itu rasanya pengen saya ajak minum teh Sariwangi biar anget hatinya, kagak nyinyir muluk.


Untuk ibu-ibu yang punya cerita senasib seperti saya, now i feel you, by the way :’)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *