Blog,  Experience

Mencicipi Profesi Freelance Ghostwriter


Bismillah, gimana kabarnya? semoga yang baca tulisan saya ini selalu dalam lindungan Allah dari segala musibah, marabahaya dan tertular virus Corona, kapan pun dan di mana pun berada, aamiin. Kali ini saya mau cerita-cerita aja sih..


Harusnya tulisan ini sudah nampang sejak Desember tahun lalu tapi apa daya, bisanya nulis sekarang. Eh emang ada apa di bulan Desember 2019? Hehe di bulan itu saya merasa bahagia karena mendapat pekerjaan yang saya idam-idamkan, sebagai penulis lepas alias freelance writer alias ghostwriter.


Pekerjaan yang sepertinya nggak ribet ya, nggak perlu skill tingkat dewa. Tapi nyatanya jeng-jeng, butuh skill banget untuk menjadi seorang freelance writer sekalipun. I learn from this untuk tidak menganggap remeh suatu pekerjaan dalam bidang APAPUN.


Skill apa sih memangnya? Dasarnya adalah skill memahami tata bahasa Indonesia, di mana saya sudah lupa tentang itu semua.


Pekerjaan ini begitu saya idam-idamkan lantaran saya yang kini nyaman berada di balik layar. Saya kini lebih suka berada di balik monitor laptop dan menulis. Saya nyaman mengasingkan diri sementara otak saya liar berlari-lari. Ya, such of that.


Selain itu juga kini saya tidak lagi bebas sendiri, ada buntut yang terus-terusan ngintilin ke mana saja saya pergi dan butuh perhatian lebih. Oh Thank God.


Lalu bagaimana saya bisa nyemplung ke profesi kepenulisan? Jawabannya NETWORKING. Selepas saya kembali dari Madiun untuk menjalani aktifitas di Sidoarjo, saya merasa menjadi ibu adalah sesuatu yang membebani.


Alhasil ikutlah saya ke dalam komunitas Sentra Laktasi Muslimah (SALMA) untuk mengalihkan pikiran tersebut yang kemudian di dalamnya saya bertemu dengan orang-orang hebat, salah satunya mbak April.


Perkenalan singkat saya dengan mbak April sebagai relawan SALMA ini cukup untuk mengetahui latar belakang beliau. Beliau seorang ibu tiga anak yang aktif dalam berbagai komunitas dan sudah menerbitkan buku berjudul Keajaiban Sholawat (eh bener nggak mbak April? Xoxo). Dari situ saya merasa kok Allah ngasih petunjuk melalui ini.


Singkat cerita saya baca WhtasApp story-nya mbak April yang isinya lowongan penulis lepas. Saya WA mbak April lalu dikenalkanlah saya dengan mbak Anggi. Saat itu sih, yakin banget deh bener saya bisa nulis dan dengan percaya dirinya saya menyatakan pernah ikut kursus kepenulisan di @nulisyuk bersama IDN Media.


Ya ampun, malu banget kalo harus inget waktu itu tingkat kepercayaan diriku sampai mengalahkan segalanya. LOL. Karena ya ternyata bekal kursus online bareng @nulisyuk aja nggak cukup #nangis.


Oke, lanjut. Sama mbak Anggi ini saya yakin seyakin-yakinnya untuk bisa menjadi penulis lepas, well ghost writer lebih tepatnya. Saya ikut training sampai ya kira-kira satu minggu.


Sayangnya saya tidak bisa lanjut training karena saya tidak mau melanggar prinsip nilai keagamaan hanya untuk menjadi seorang freelance ghost writer. Saya sedih, merasa gagal meraih kesempatan. Akhirnya saya chat mbak Anggi untuk minta koreksi atas training saya waktu itu.


Saya pikir karena saya selalu lewat jadwal setor artikel jadi saya nggak termasuk, tapi ternyata tidak. Syukurlah.


What? Syukurlah?


NO, itu bencana.
Karena sekali kamu lewat setor artikel maka kelar nasib karirmu di dunia freelancer.


Itu poin penting sekali dan harus digaris bawahi, cetak tebal kalo perlu. Itu kekurangan saya. Saya belum bisa mengalokasikan waktu untuk bekerja di rumah. Ada missed konsepsi di otak saya tentang makna freelance.


Tapi, maa syaa Allah baiknya mbak Anggi mau kasih saya kesempatan untuk mencicipi profesi sebagai freelance ghostwriter. Mulanya saya dikasih 5 keyword alias kw, yang nantinya saya harus membuat satu artikel 1.000 kata dengan kw tersebut dalam waktu 3 hari, dengan skema hari ini 2 artikel, besok 3 artikel. Saya sanggupi pekerjaan tersebut, karena ya kalo nggak berani ambil resiko ya berarti saya nggak mau maju


Selesai 5 artikel lanjut 5 lagi, lanjut lagi jadi 10 artikel sampai beberapa kali. Awalnya mulus, tapi ternyata tidak T_T
Saya kelimpungan mengatur jam kerja meski saya sudah menonton Youtube yang isinya seputar keseharian freelancer, membaca artikel para freelance writer and such.. tetapi tetap saja saya kesulitan karena itu belum jadi kebiasaan saya. Badan saya kaget dengan pola kerja seperti ini.


Bukan hanya badan yang kaget mood saya juga kaget, saya yang sebelumnya sudah lama sekali tidak pernah lagi merasakan moody, menjadi moody kembali. Lama sekali saya harus mengembalikan mood sementara saya dikejar deadline. Sedihnya segala cara sudah saya lakukan untuk mengembalikan mood namun si mood itu nggak dateng-dateng juga. (Kamu kok jahat sih mood)


Gara-gara drama mood, kerjaan saya keteteran parah. Target awal saya mau menyelesaikan 100 artikel setiap bulan buyar sudah. Saya hanya mengerjakan beberapa artikel, saking lamanya nunggu mood datang. Saya sedih sampai harus mengecewakan mbak Anggi, saya tahu dia juga pasti dalam kesulitan.


Ah, ya.. belum lagi drama anak sakit dan drama “ini anak dititipin ke siapa ya biar aku bisa kerja?”. Pusing kepala ibu.


Namun, lagi-lagi atas keajaiban Allah saya masih dipercaya nulis, meski drama tersebut terulang kembali. Sempat saya mikir “Apa iya saya terlalu memaksakan keadaan?”.


Saya merasa memaksakan untuk segera bekerja, sementara saya punya anak kecil yang belum genap satu tahun dan sedang butuh-butuhnya perhatian ekstra, sementara saya tidak punya ART. Di fase inilah pikiran saya mulai kemana-mana.


Saya merasa iri dengan mereka yang masih single dan belum punya tanggung jawab apa-apa selain dirinya sendiri. Ih, saya terdengar menyeramkan ya sampai harus iri segala sama orang lain, but that’s true. Bukan masalah tidak bersyukur ya, beda, tolong jangan dikait-kaitkan. Tanpa disuruh juga saya sudah sangat bersyukur ada di posisi saya sekarang.


Ini hanya sebuah fase yang harus saya lewati ketika berproses.


Berulang kali juga saya menepis pemikiran-pemikiran negatif dan fight sama diri sendiri, sama batin sendiri dan meyakinkan diri kalo saya mampu menghadapi drama-drama tadi, saya mampu menyelesaikan artikel tepat waktu.


Namun, entah seakan kemampuan untuk multitasking saya melemah. Saya jadi tidak bisa menjadi laba-laba seperti biasanya, saya benar-benar kacau saat itu.


Pikiran saya bercabang-cabang akan hal ini dan itu. Seperti, “event di sini bagaimana ya?”, “event di situ apa yang kurang ya?”, “saya belum belajar untuk tes”, “cari referensi di mana lagi ya?”, scrol artikel.. “ini nyambung nggak ya sama kw-nya?”, “Asla kasian cari-cari perhatian terus padahal ibunya di depan mata”, “aduh ini anak titipin daycare masa? tapi aku nggak tega”, “aku butuh tidur” dan seterusnya.


Mostly, pikiran bercabang itu berasal dari asumsiku sendiri, hingga pada akhirnya banyaknya asumsi tersebut mengecilkan ruang aksiku. Harusnya saya mampu menyelesaikan 1 artikel dalam waktu 2 jam tanpa distraksi, jadi, selama sehari seharusnya saya bisa membuat 3-5 artikel


Hop! Hop! Don’t judge, don’t judge your self. Berhenti berandai-andai yuk Shima. Kamu hanya belum terbiasa dan semuanya pasti akan baik-baik saja #selfafirmation.


Dengan berbagai pertimbangan dan karena ada satu alasan prinsip keagamaan (lagi), akhirnya saya lepas juga kesempatan bekerja di rumah ini. Saya terlalu sensitif sehingga takut Asla menderita batinnya karena kurang perhatian dari saya


Sedihnya lagi, saya lepas pekerjaan ini dengan cara tidak baik-baik. Maafkan ya mbak Anggi. Saya merasa senang sudah bisa mencicipi manisnya bekerja dari rumah. Allhamdulillah, terimakasih kesempatannya ya Rabb.


Sampai sini sudah kapok? Oh tentu tidak, saya tidak akan menyerah kali ini. Saya anggap ini sebagai permulaan untuk berkarir di dunia kepenulisan, khususnya content writer.


Kedepannya saya mau lebih siap dan matang lagi menghadapi pekerjaan ini. Saya mau melatih kemampuan mengetik 10 jari, saya mau mematangkan konsep kerja freelance, saya mau lebih mendalami lagi apa itu content writer dan lain-lain.

Suka Duka Menjalani Profesi Ghostwriter


Selama menjalani profesi sebagai ghostwriter saya merasa ada suatu kebiasaan yang mulai terbentuk tanpa saya sadari, yaitu bisa dengan mudahnya untuk story telling dan menulis suatu artikel sampai 1.000 kata dengan susunan rapi 4 baris dalam satu paragraf (susunan yang ideal untuk media online). Otak saya juga mulai terbiasa berfikir untuk mengaitkan satu kalimat dengan kalimat lain. Ini dia yang namanya hikmah Allah di setiap kejadian. Ha!


Menulis beberapa artikel belakangan juga membuat saya lebih memerhatikan kaidah penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya jadi lebih memahami kosakata, tata bahasa dan tidak ragu lagi menulis artikel di blog pribadi dengan bahasa yang Shima banget.


Karena saya orangnya idealis, terlalu berpegangan erat dengan pakem-pakem penulisan yang pernah saya pelajari di SMP dan SMA. Contoh kecil kalo mau nulis kata asing harus ditulis miring and such.


Itu tadi sukanya, dukanya? Beuh, jangan ditanya. BANYAK! Pertama saya sering kena omel karena kualitas artikel saya jelek. Nggak cukup itu, badan saya sering tiba-tiba drop. Habis itu saya sering sakit kepala, bahkan bangun tidurpun saya masih merasa pusing. Lanjut, masih ada lagi dukanya. Kadang, karena nggak bisa milih tema saya harus menulis hal-hal yang bertentangan dengan nilai keagamaan.


Ada lagi ini alasan kuat untuk berhenti sebentar dari pekerjaan tulis-menulis, yaitu anak. Karena nggak sengaja negliat video-video Asla usia beberapa hari lalu saya merasa “lah kok cepet banget ini bocah udah gede aja”, pun kasian sama dia yang sering main-main sendiri sementara saya sibuk dengan laptop. Kadang nih kalo dia udah jengkel, laptop eike bisa diacak-acak terus dipukul-pukul dong.


Lagipula sungkan nggak sih nitipin Asla ke orang tua terus-terusan? Aku iya. Berulang kali mereka ngeluh capek karena jagain Asla sekarang harus ekstra banget, dia lagi demen-demennya merangkak, trantanan, gulu-gulung, nyusruk, ah apaan tauk deh pokoknya gitu.


Masa iya mau ngerepotin bapak ibu lagi? Rasanya nggak tau diri banget, udah masa mudanya direpotkan dengan ngurus saya dan adik, terus sekarang suruh jagain anak saya? Hell NO.

Tips dan Trik Menulis 1.000 Kata


Pasti pada pengen tahu “kok bisa dalam waktu beberapa bulan sanggup nulis 1.000 kata per artikel?”. Jawabannya kepepet beb. Haha, karena kalo kita kepepet pasti apa aja, jadi bisa dilakuin. Betul nggak?


Ada lagi tipsnya menulis 1.000 kata dalam satu artikel, yaitu dengan menulis terlebih dahulu isi artikel lalu dilanjut dengan pembukaan dan penutup atau kesimpulan, langkah selanjutnya tentukan judul, edit lalu masukkan keyword.


Kayanya gampang gitu ya? Nyatanya susah banget


By the way, maaf ya kalau misal kalian ngerasa feelnya beda di beberapa paragraf, karena saya nulisnya nyicil selama empat hari ini.


Nah, ini juga nih tipsnya menulis artikel 1.000 kata. Sebaiknya selesein satu artikel dalam satu waktu itu juga. Jangan dicicil, karena feel-nya udah pasti beda. Pasti ada nggak nyambung-nyambungnya entah itu terletak di judul, di paragraf pembuka atau kesimpulan.


Pastikan juga untuk melakukan riset terlebih dahulu sebelum mau menulis, jangan sampe nulis sambil cari-cari referensi. Kalo kaya gitu pasti fokusnya bakal kepecah. Riset bisa kamu cari di Google Search, Trends atau Scholar.


Riset yang dimaksud adalah mencari referensi artikel yang memiliki keterkaitan dengan kw. Nantinya selain dijadikan sebagai referensi, artikel hasil riset tersebut bisa juga dijadikan bahan parafrase.


Selanjutnya adalah trik personal ya, boleh dipake boleh nggak. Karena setelah aku pahami, ternyata secara garis besar artikel-artikel yang beredar di website itu artikel hasil parafrase dari satu artikel yang kemudian dikurangi, ditambahkan bahkan disempurnakan oleh si penulis selanjutnya. Jadi kalo saya pasti copy paste terlebih dahulu satu artikel di word, kemudian diparafrase untuk selanjutnya disempurnakan.

Bayaran Seorang Freelancer Ghostwriter


Kalo ngomong soal berapa bayarannya sih kayaknya nggak terlalu etis ya blak-blakkan begitu. Untuk yang sudah lama berkecimpung di dunia kepenulisan pasti tahu deh berapa angka pastinya. Tapi kalo kalian tetap penasaran, biar bisa membanding-bandingkan dirimu.


Saya kasih aja angka rata-ratanya. Rata-rata penulis freelance ghostwriter dibayar Rp 3.500,- sampai Rp. 100.000,- per artikel. Tergantung seberapa bagusnya tulisan kamu, seberapa kuat self branding kamu, seberapa lama pengalamanmu.


Lalu sekarang?


Ya, sekarang saya fokus saja dulu mengisi konten di sosial media pribadi dan sedang mengarah menjadi fultime blogger. Pekerjaan itu kan tidak bisa dibangun dalam waktu semalam. Butuh beberapa bulan atau beberapa tahun untuk membangunnya.


Saya harus konsisten mengisi konten di blog ini. Saya mau mengisi konten ini dengan santai tanpa beban tanpa deadline. Yang penting goal ke depannya sih rajin-rajin aja dulu nulis di sini. Wish me luck, ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *