motherhood ummaroom
Motherhood

Ibu Bukan Tuhan

Iya, aku sedang mengeluh sekaligus heran.

Kenapa sih semua hal dibebankan kepada Ibu?

Ibu adalah tempat aman dan nyaman untuk anak. Tempat anak kembali ketika dunia mungkin menghantamnya dengan keras. Bukan Google yang tahu segalanya, pun bukan Tuhan yang bisa segalanya. Ibu itu manusia kan? Manusia itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya kan? Kenapa ibu selalu jadi tumpuan segalanya?

Ibu juga bisa lelah kok, bisa mendelegasikannya pada orang lain kalau memang tidak mampu. Seorang ibu nggak harus bisa masak lo, nggak harus bisa nyetrika, nyuci dan jemur baju. Nggak harus juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Semakin lama aku hidup, pandangan ku terhadap dunia semakin terbuka lebar. Bahwa kita, manusia, terlahir memiliki banyak kekurangan dan kelebihan. Let’s say aku yang tidak pandai menulis tapi Allah kasih kelebihan berbicara. Ada lagi kawanku yang pandai sekali memenangkan hati suaminya tapi hubungannya buruk dengan anaknya.

Ada juga ibu yang pandai mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga tapi buruk dalam menjaga hubungan dengan anak dan suaminya. See? Nggak ada yang sempurna, selalu ada celanya. Ada orang yang pandai di satu bidang dan tidak di bidang lain dan itu tidak apa-apa. Tidak semua harus ibu kuasai untuk menjadi ibu yang hebat di mata anak.

Ya, di mata anak bukan di mata orang lain atau dunia. Karena kebutuhan setiap anak dan keluarga berbeda. Teorinya memang harus bisa ini itu, harus pandai menguasai ini itu. But, hell no! Mengejar predikat ibu yang bisa segalanya bakal capek sendiri. Bener deh.

Belakangan orang tua mulai tersadarkan dengan banyaknya kampanye yang menggaungkan bahwa anak itu berbeda dan berbeda itu tidak apa-apa. Berbeda di sini nggak cuma masalah fisik, tumbuh kembangnya saja tetapi juga masalah kelebihan dan kemampuannya dalam segala aspek kecerdasan.

Kalau orang tua saja sudah mulai menyadari bahwa anak itu beda-beda. Kenapa kita tidak menyadari juga bahwa kapasitas kita sebagai ibu itu berbeda. Nggak bisa disamakan, bukan?

Aku dicela ketika tidak bisa memberikan anakku makanan tepat jam 7 pagi. Pernah juga dicela karena menitipkan anakku, sementara aku pergi bekerja. Pernah juga ditegur lantaran aku memasukkan anakku TPQ di usianya yang baru 2,5 tahun.

Please, believe me. Aku lakukan itu semua semata-mata untuk menjadikan diriku lebih waras dan memfokuskan diriku pada potensi lain dalam hal pengasuhan anak. Aku mendelegasikan hal-hal yang tidak aku bisa agar aku bisa bahagia tumbuh bersama anakku.

Aku tidak suka pekerjaan rumah tangga, tapi aku suka bekerja supaya pemasukan rumah tangga bertambah. Aku tidak bisa bangun pagi untuk sekedar menyuapi anakku, tapi aku bisa membuat dia kenyang dan membuat masakan untuk anakku.

Aku susah tidur susah bangun, tidurku harus cukup 8 jam kalau tidak aku bisa uring-uringan, pun aku sering terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur lagi sampai shubuh tiba sehingga menyebabkan aku harus menebus waktu tidurku yang berkurang di pagi atau siang hari. Tapi aku bisa membuat anakku tidur tepat waktu jam 9 malam.

Aku tidak bisa selalu membelikan baju anakku, tapi aku bisa membuatnya terlihat bersih dan tidak bau. Aku tidak tahan bermain lama-lama dengan anakku, tapi aku bisa dan sanggup seharian jalan-jalan naik motor dengannya atau pergi ke taman untuk naik ayunan atau lari-lari di lapangan.

Aku tidak bisa mengajari anakku huruf hijaiyah, alfabet dan angka secara konsisten. Tapi aku bisa memeluknya setiap dia datang kepadaku, bisa menciumnya, memujinya dan mengatakan bahwa “Aku sayang kamu terimakasih sudah menjadi anakku”. Di mana ada ibu lain yang tidak bisa melakukan itu kepada anaknya.

Aku bisa mengakui bahwa aku salah kepada anakku ketika aku memang benar-benar salah. Ketika dia tau bahwa ada sikapku yang tidak konsisten. Aku bisa menerima masukan dari mulut kecilnya yang dengan polosnya mengeluarkan petuah. Hahaha. (*)

Baca juga: Clueless Memahami Bayi 3 Bulan

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.