alasan seorang ibu bekerja
Personal

Alasan Seorang Ibu Bekerja

Alasan seorang ibu bekerja – “Kamu egois, Ma. Lebih milih kerjaan daripada anakmu. Harusnya kamu libur aja lo sampai Asla sembuh,” ujar adikku ketika aku kabari dia kondisi anakku harus masuk UGD, Desember 2021 lalu.

Sambil menggendong anak aku merasa marah, kenapa harus keluar dari mulut adik kandungku. Kecewa, karena dia tidak bisa berempati dengan kondisiku yang sedang beradaptasi. Sedih, karena seolah apa yang terjadi sama Asla ini benar akibat keegoisanku.

Memang benar aku enggan libur saat tahu anakku nyaris di opname, karena aku masih dalam masa percobaan kerja. Aku sadar itu nggak mudah dan akan ada banyak penyesuaian. Salah satunya, anakku yang harus tumbang, lantaran stres terpisah dari aku delapan sampai sepuluh jam lamanya.

Pesan singkat dari adikku begitu membuatku terpukul. Dari situ aku jadi berpikir ulang, “Kenapa ya aku segininya harus kerja dan meninggalkan anak di daycare? Apa alasan seorang ibu bekerja ya? Pertanyaan itu sekaligus menggali strong why supaya semua bisa lebih mudah aku jalani ke depan. 

| Baca juga: Ibu Bukan Tuhan

Stay connected

Aku kerja bukan tanpa alasan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk memantapkan hati. Terhubung dengan dunia luar adalah salah satu alasanku. Dengan bekerja di luar, aku bisa bertemu dengan orang baru yang isi kepalanya beragam. Aku bisa tukar pikiran, diskusi, informasi, dan interaksi. 

Melalui interaksi dengan manusia lain, aku merasa tidak sendiri. Meskipun sekarang sudah canggih, aku bisa ngobrol sama orang lewat media sosial, namun tetap beda rasanya. Jika berhadapan langsung dengan orang, aku merasa itu nyata. Tapi kalau di chat aku merasa sedang ngobrol sama robot.

Interaksi langsung lebih aku prioritaskan, karena aku anaknya physical touch banget. Iya, love language ku adalah sentuhan. Sehingga jika bersentuhan dengan orang lain (kecuali dengan pria yang bukan mahram), entah itu berjabat tangan, menepuk pundak, mengusap punggung aku merasa hidup.

Mengasah komunikasi verbal

Memang banyak caranya mengasah komunikasi verbal. Bisa bicara secara lisan maupun tulisan. Nah, di sini aku mau lebih mengedepankan komunikasi lisan. Karena semenjak menikah aku seakan memasuki dunia lain. Dimana hanya ada aku, suami, keluargaku, keluarga suami, dan tetangga.

Ruang lingkupku semakin kecil, pun aku sangat menghindari pembicaraan yang tidak perlu. Jujur, aku nggak suka ngomongin orang, kecuali memang orang tersebut layak diperbincangkan, karena berbahaya. Sehingga aku patut waspada dalam menentukan sikap di depan orang tersebut.

Karena banyak berinteraksi dengan rekan kerja, jadi kemampuan komunikasiku terasah kembali. Fyi, aku sempat mengalami gagap bicara karena terlalu lama diam. Kemampuan berbicaraku jarang terasah, aku sibuk mengasingkan diri. Nanti aku ceritain kenapa sampai gagap dan bagaimana cara memulihkannya. 

Menjaga kewarasan

Menikah dan punya anak itu nggak mudah. Sungguh. Aku bekerja untuk melarikan diri dari itu semua. Aku merasa ketika merubah status sebagai istri dan ibu, aku kehilangan jati diri seorang Shima. Wanita yang riang, ambisius, bersemangat, senang bergaul, hangat, berempati, seru, out of the boxunpredictable.

Aku yang begitu bersemangat ketemu sama orang baru, mendadak harus bisu diantara dinding-dinding putih. Memang ada anakku di rumah ini, namun dia tidak bisa diajak bertukar pikiran. Suamiku pun, bukan tipe orang yang suka diajak diskusi. Dia seorang yang lebih memendam semua.

Tetangga bagaimana? katanya suka bertemu dengan orang baru. Iya, di awal aku semangat ketika tahu akan punya tetangga. Tapi, begitu aku tahu topik pembicaraannya itu itu saja, aku mundur teratur. Aku lebih memilih diam di rumah sambil main bebas sama anak, tidur, dan liat Netflix.

Intinya, aku butuh ngobrol sesering mungkin dengan orang yang memiliki kemampuan berpikir yang sepadan. Syukur bisa bertemu dengan orang intelegensinya melebihi aku, jadi bisa bertukar pikiran yang banyak dengannya.

Aku mengalami kelelahan mental yang parah, sehingga membuatku frustasi, depresi. Ketika aku ke luar rumah aku merasa bebas, tidak terkungkung. Aku bisa dengar suara orang lain, aku bisa melihat wajah orang, aku bisa merasakan udara yang membuat dadaku tidak tercekat lagi.

Selain itu, aku bisa memperbaiki hubunganku dengan anakku. Waktu aku masih jadi ibu rumah tangga, aku kerap marah-marah sama Asla. Aku kelelahan, tapi nggak ada yang tahu, kalaupun aku mengeluh sama orang tua, pasti dijawab ‘ya emang gitu, kamu dulu lebih parah’. Itu nggak membantu sih. 

Aku perlu jeda dalam membersamai anakku. Aku mau hadir sebagai sosok yang sesempurna mungkin. Tidak memberikan luka mental yang dalam. Aku nggak mau anakku jadi samsak tinju. Pelampiasanku karena semua masalah di otak yang tidak kunjung ada penyelesaiannya.

Setidaknya, dengan aku bekerja di luar. Aku bisa mengkotak-kotakkan waktu, kapan harus kerja, kapan harus sama anak. Ketika di kantor aku fokus kerjaan, saat di rumah aku fokus main sama anakku. Apakah terwujud? Iya, semenjak aku kerja, aku jarang marah sama anakku.

Mungkin, karena aku nggak mau mengecewakan dia lebih banyak. Sudah ditinggal kerja, dimarah-marahin pula, kan kasian. Kalau kata temanku, ‘biar waktu saja yang berkurang, tapi kasih sayang, materi dan lainnya jangan!’.

Aktualisasi diri

Iya, alasan ku sebagai seorang ibu tetap kerja juga karena aktualisasi diri. Ingin memenuhi diriku sendiri, dengan memaksimalkan potensi diri. Sebab, aku merasa masih muda masih bisa berpikir, masih bisa bekerja, bergerak, aku mau menggunakan itu semua untuk menjadi Shima versi ter ter ter terbaik.

| Baca juga: Hilang Identitas

Butuh uang

Klise ya, tapi ini faktanya. Aku masih butuh uang dan mau punya uangku sendiri. Sebagai wanita yang menentang patriarki, sebisa mungkin aku akan mandiri secara finansial dan mewujudkan financial freedom. Aku bekerja, uangnya bukan buat bantuin kebutuhan rumah tangga, tapi buat aku sendiri. 

Karena aku punya cita-cita yang ingin aku wujudkan, dan rasanya nggak enak aja harus terus menerus minta suami, meskipun tidak dilarang ya minta suami membiayai mimpi kita. Intinya nggak mau jadi beban aja, balik lagi selama aku bisa sendiri, aku lakuin sendiri. Mmm.. Apa karena aku anak pertama ya?

Hanya ada lima poin, tapi penjabarannya banyak kali. Ini sekalian menjawab rasa penasaran kalian sih (bagi yang penasaran aja), hehehe. Karena aku nggak mungkin jawab satu persatu. Apa yang aku tulis di sini hanya gambaran besar.

Sebenarnya, masih banyak lagi alasan ku sebagai seorang ibu untuk bekerja yang nggak mungkin aku ungkap di sini. Kalian sendiri, gimana? Merasa relevan nggak dengan apa yang aku tulis di sini? Diskusi yuk di kolom komentar!

3 Komentar

  • Avatar

    Praharsacitta

    Thanks for sharing mbaaaa shima 🤍
    Ternyata aku ga sendirian merasakan hal ini 😊 Semoga Allah mudahkan ya mba semuanya

  • Avatar

    fanny_dcatqueen

    Feel youu mba shimaaa 😘. Ngerti bangeet alasan kenapa kita sebagai ibu ini butuh kerja. Aku sendiri sekarang udah resign dr kantor, tapi ttp kerja dari rumah. Ga kepengin hanya ngelakuin tugas rumah tangga. Aku butuh tantangan, yg sesuai minatku. Dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga jujurnya ga sesuai dengan yg aku mau. Syukurnya suami ngerti dan sangat supportive. Makanya dia nyediain asisten utk membantu juga babysitter buat merawat anak2.

    Waktu untuk anak2 tetep ada, tapi ga mau sampe 24 jam , yg bikin aku ga ada waktu buat diri sendiri. Aku juga butuh waktu itu. Biar otak tetep bisa waras dan terus kerja sesuai skill ku. Jadi aku ngertiiii bgt kalo ada temen2 yg memang lebih milih kerja daripada di rumah. Aku ga akan bilang mereka egois. Malah yg memaksakan untuk stay di rumah menjaga anak2, itu lah yg egois. Ga mau ngerti kondisinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.